Berita|

Pengamat politik Muradi mendorong pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk menggarap secara serius suara pemilih milenial. Kedua paslon, perlu memahami keinginan dan perilaku politik milenial.

“Strategi yang paling baik adalah memahami esensi keinginan dan perilaku politik milenial,” ujar Muradi saat dihubungi, Selasa (30/10).

Menurut Muradi, idiom dari Mao Tse Tung terkait ‘masuk pintu mereka, keluar pintu kita’ bisa menjadi rujukan untuk menggaet suara pemilih milenial tersebut. Dengan idiom tersebut, kedua paslon harus memahami, mengikuti, dan berpikir sebagaimana kelompok milenial. “Itu merupakan pintu masuk untuk bisa memahami dan pada akhirnya menggaet dukungan milenial. Karena isi kampanye dan cara penyampaiannya harus disesuaikan dengan gaya milenial,” tandas dia.

Muradi menilai, suara pemilih milenial sangat signifikan, lebih dari 20 persen dari jumlah pemilih. Bahkan karakter pemilih milenial dianggap mampu menjadi simpul pemilih yang bisa membangun tren keterpilihan atau elektabilitas paslon capres-cawapres. “Jika capres-cawapres bisa mendapatkan suara dari milinieal secara efektif, akan berimplikasi pada penguasaan suara yang lebih efektif dan massif saat memerintah,” ungkap dia.

Muradi berpandangan bahwa sejauh ini pasangan capres-cawapres baru pada simbolisasi dan jargon semata dalam menggarap suara pemilih milenial. Mereka belum benar-benar melakukan upaya menggaet suara milenial ini.

“Tentu hal ini tidak akan berimplikasi besar pada pemenangan pasangan capres-cawapres. Sejauh hanya mengambil simbol dan jargon semata, maka hanya akan segmentasi semata yang tergaet. Bukan keseluruhan suara milenial. Karenanya, perlu penegasan dan langkah komprehensif agar suara milenial dapat tergarap dengan baik,” pungkas dia.

sumber : beritasatu.com

Comments are closed.

Close Search Window