Berita|

Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, kemenangan calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres) di Pemilu 2019 nantinya juga sangat ditentukan oleh kegiatan debat kandidat.

“Masyarakat menunggu kedua kandidat ini untuk menawarkan program yang terukur, rasional dan dapat diwujudkan sesuai dengan termin waktu misalnya tahun pertama, tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Itu yang ditunggu rakyat kita,” kata Emrus, Senin (10/12) di Jakarta.

Apalagi, hingga saat ini masyarakat belum menemukan isi program dari masing-masing kandidat. Kampanye yang disampaikan kedua kandidat, baik itu pasangan Jokowi maupun Prabowo, belum sampai pada program-program solutif bagi rakyat.

“Kalau kita evaluasi kampanye kita sampai hari ini, saya melihat bahwa kampanye belum pada subtantif, belum pada program program solutif bagi rakyat. Justru kita disuguhkan wacana tentang istilah yang tidak produktif. Dilakukan oleh dua kandidat,” ucapnya.

Akibatnya, sampai dengan saat ini masyarakat justru menjadi terpolarisasi dan semakin terbelah dalam menyingkapi perang argumen yang sama sekali belum menyasar pada program-program unggulan kandidat.

“Masyarakat seolah terpolarisasi. Yang perlu menjadi catatan, dari hasil survei upaya tersebut ternyata tidak mendongkrak suara dan elektabilitas dari dua kandidat ini,” ucap Emrus.

Dalam debat kandidat yang secara resmi akan digelar oleh KPU, menurutnya, akan memberikan keberhasilan dan kemenangan yang signifikan selama para kandidat mampu menterjemahkan keinginan masyarakat melalui program yang terukur.

Dikatakan, Jokowi sebagai petahana tentu akan menjelaskan program-program pembangunan yang sudah terwujud selama lima tahun. Apa yang sudah dilakukan dan tentu lima tahun berikutnya apa yang ditawarkan.

Di sisi lain, pihak Prabowo sebagai penantang idealnya melakukan kritik-kritik pembangunan selama lima tahun yang dilakukan Jokowi. Kritik yang diberikan tentu harus berbasis data atau penelitian yang dilakukan. Jika tidak, maka justru akan menjadi senjata makan tuan

“Atas dasar itu mereka bisa menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan. Menurut saya, tidak ada satupun pemerintahan yang sempurna di dunia. Pasti ada kekurangan. Mampukah Prabowo membongkar kelemahan tersebut?” ucapnya.

Di dalam demokrasi rasional, panggung debat terbuka antara kandidat sebaiknya memang dapat diperbanyak. Apalagi jika di dalam kenyataannya, justru kampanye kedua kandidat cenderung belum menyentuh akar persoalan.

“Kalau kita kedepankan demokrasi yang rasional, maka perdebatan itu sejatinya lebih banyak lebih baik. Namun syaratnya dilakukan dengan persiapan yang matang sehingga menarik disaksikan. Tetapi jangan terjadi saling menyerang, namun saling kritik berdasarkan data. Keakraban mereka menjadi sesuatu yang sangat baik,” kata Emrus.

sumber : beritasatu.com

Comments are closed.

Close Search Window