Artikel|

Sepertinya ada yang aneh ya negara kita ini. Sudah makin terkotak-kotak. Kelompok A Versus Kelompok B. Kubu X Versus Kubu Y. Malah makin aneh rasanya pas ada yang bikin pemimpin tandingan itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang salah? Kenapa bisa begitu?

Entah lah. Saya juga bertanya-tanya.

Tapi sepertinya memang begitu lah bentuk demokrasi. Yang saya tahu setiap orang itu diciptain beda-beda. Sementara setiap sudut pandang, punya makna yang berbeda-beda juga dalam melihat sesuatu. Kepentingan beda. Kebutuhan beda. Tujuan dan keinginan beda. Prinsip antara benar-salah juga beda-beda. Begitu juga ketika mereka membentuk kelompok. Wajar saja kalau ada perbedaan pendapat, persaingan, atau juga kompetisi. Tak ada kan yang mau kalah atau dirugikan? Saya juga sama.

Tapi, ada satu yang saya khawatirkan kalau melihat berita dan media saat ini. Bukan masalah siapa yang benar, siapa yang salah. Bukan juga siapa yang berhak memimpin, siapa yang tidak. Yang menurut saya lebih penting justru masalah paling mendasar dalam negara ini. Unsur yang paling mendasari terbentuknya negara kita ini:

Rakyat yang bersatu membentuk negara itu sendiri.

Masalah supremasi hukum yang lemah, ekonomi yang justru pro orang kaya, pemerintah yang boros, BBM naik, pemimpin pembohong dan punya kecenderungan tirani, atau masalah lain yang biasa kita baca/dengar lewat informasi/artikel/berita/opini di media itu hanya satu masalah.

Ibarat negara adalah sebuah bangunan rumah tempat tinggal kita, menurut saya itu hanya berupa penghias atau perabotan di dalamnya. Bangunan rumah kita masih bisa berdiri tegak ketika kursi atau kasur di dalamnya kurang nyaman untuk jadi tempat istirahat. Masih ada lantai. Walau memang kurang nyaman, setidaknya kita masih bisa menghuninya. (Maaf, bukan maksud saya menyepelekan masalah tersebut. Memang itu masalah besar dan perlu solusi. Hanya sebagai perbandingan saja.)

Tapi, masalah persatuan ini merupakan fondasi, dinding, tiang, dan kerangka. Sedikit retak, maka rawan roboh. Melihat apa yang terjadi saat ini, sepertinya retakan itu sudah nampak. Tiap rangka sudah saling terpisah satu sama lain. Entah lah, benar atau tidaknya. Hanya was-was saja.

Masih ingat dengan siasat devide et impera? Cara VOC memecah belah Indonesia zaman dulu kala hingga akhirnya mereka lebih mudah untuk mengusasai satu demi satu wilayah hingga berujung 350 tahun penjajahan? Saya juga tidak terlalu paham. Bagaimana bisa? Apakah benar terjadi seperti itu? Sekali lagi, saya hanya khawatir hal itu terjadi lagi.

Kemudian, terlintas samar-samar tentang kerusuhan di Mesir, Suriah, atau yang lainnya. Saya menduga ‘Apakah mungkin awalnya juga seperti ini? Pemimpin sah Versus pemimpin sah lainnya? Kelompok satu versus kelompok satunya lagi? Kubu satu versus kubu yang lainnya?’

Saya khawatir negara kita mengalami hal yang sama.

Negara kita ini kan berisi kelompok yang plural, warna-warni, macem-macem. Makin beda isinya, makin mudah untuk dipecah belah. Lagi. Itu yang ada dipikiran saya.

Saya hanya orang awam yang mencoba mencurahkan apa yang saya pikirkan. Jadi mungkin ada beberapa hal yang kurang berkenan dalam tulisan ini. Mohon maaf lahir dan batin. Tapi, mohon dipikirkan kembali setiap kata, kalimat, paragraf, dan keseluruhan tulisan yang saya sampaikan ini.

Terima kasih. Semoga apa yang ANDA lakukan, ucapkan, maupun pikirkan dapat bermanfaat bagi kita semua.

sumber : kompas.com

Bagikan

Comments are closed.

Close Search Window