Berita|

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan demokrasi Pancasila yang dianut di Indonesia sudah kuat. Hanya saja perlu dikembangkan dan disempurnakan secara berkelanjutan sehingga membuat Indonesia lebih baik lagi.

“Misalnya Tiongkok dan Singapura tidak menggunakan sistem demokrasi, tetapi bisa maju dalam berbagai hal. Sekarang sudah muncul gelombang ekonomi bisnis, contohnya Amerika, di sana konglomerat tidak bisa menjadi Presiden, hanya menjadi donatur. Ibaratnya bukan menjadi pemain,” ujar Jimly pada diskusi media bertema “Kajian Konstitusi Wacana Calon Tunggal Pilpres vs Demokrasi Rusia” di Jakarta, Jumat (16/3).

Jimly mengatakan, demokrasi di Indonesia dapat terlaksana dengan baik bila makna yang dikandungnya sudah dipahami. Apalagi Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga. “Nilai demokrasi bukan hanya diukur dari kalah atau menang, namun harus menjadi sebuah prinsip. Demokrasi adalah pelaksanaan tugas secara bertanggung jawab serta ideal,” tutur dia.

Jimly mencontohkan, penerapan demokrasi di Indonesia dapat ditelaah pada pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung lima tahun sekali. Pelaksanaan pilpres dalam demokrasi Indonesia, amat berbeda dengan sistem seperti yang dianut Rusia.

“Kalau di Rusia, bila seorang pemimpin sudah terpilih dua kali berturut-turut (pada pilpres), selanjutnya dapat mencalonkan menjadi Perdana Menteri,” ujar Jimly.

Ketua Koordinasi Luar Negeri dan Hankam ICMI Yasril Ananta Baharuddin mengatakan bahwa model demokrasi di setiap negara berbeda-beda, seperti Indonesia yang mengimplementasikan demokrasi Pancasila.

“Harus tetap menjadikan itu (demokrasi Pancasila) sebagai penguat bila ingin mempelajari demokrasi negara lain. Itu hanya sebagai penambahan ilmu saja,” ungkap Yasril.

sumber : beritasatu.com

Comments are closed.

Close Search Window