Berita|

Istilah milenial menjadi marak akhir-akhir ini, terutama mendekati tahun politik, yaitu Pemilu 2019. Milenial sendiri merupakan istilah untuk generasi yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga tahun 2000. Dengan kata lain, generasi milenial adalah generasi muda yang berusia sekitar 18–38 tahun yang hidup dalam dunia yang dipenuhi peralatan elektronik dan jaringan online.

Generasi ini lebih suka mendapat informasi dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum agar mereka tetap up-to-date. Dalam pemilu nanti, posisi generasi milenial sangat diperhitungkan karena mereka adalah bagian penentu dari kemajuan dan keberhasilan demokrasi baik di tingkat daerah maupun nasional.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih milenial mencapai 70–80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya sekitar 35–40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang.

Generasi milenial menjadi sasaran empuk bagi politisi-politisi yang ingin mengajukan diri sebagai anggota dewan karena kondisi idealis pemuda yang mudah sekali dipengaruhi tentang keberpihakan, selain itu, karena semakin banyak politisi yang menyadari pentingnya peran media sosial sebagai cara untuk memperoleh kemenangan pada pemilu.

Dalam politik demokrasi saat ini, segala cara dan upaya dihalalkan untuk meraih kemenangan. Meraih kekuasaan merupakan tujuan tertinggi yang ingin dicapai dalam pesta demokrasi serta menjadi sarana untuk meraih materi keduniawian. Oleh karena itu, wajar jika dari realitas politik demokrasi seperti ini lahir para penguasa yang tak sungguh-sungguh menginginkan rakyat ada dalam kebaikan. Kepentingan diri pribadi dan kelompok justru menjadi hal yang diutamakan. Oleh karena itu, muncul pada sebagian orang, stigma bahwa politik adalah sesuatu yang kotor dan harus dihindari.

Berbeda halnya dengan sistem politik Islam. Dalam Islam, politik memiliki makna yang demikian mulia. Politik dimaknai sebagai pengurusan urusan umat baik di dalam maupun luar negeri, hanya dengan hukum-hukum Islam. Dan dalam Islam politik merupakan salah satu manifestasi keimanan, bahwa Allah adalah pencipta sekaligus pengatur kehidupan dengan jalan menurunkan risalah Islam.

Dengan demikian, Islam adalah politik. Politik adalah Islam. Islam tak mengenal pemisahan agama dari politik. Politik terikat dengan halal dan haram. Aktivitas politik dalam Islam didedikasikan untuk kepentingan umat dan kemuliaan risalah Islam. Sehingga politik Islam tampak berdimensi duniawiah sekaligus ukhrawiyah.

Aktivitas politik inilah yang semestinya lekat pada para pelaku politik, baik di tataran individu, kelompok/jamaah/partai, maupun negara. Di tataran individu, aktivitas politik tampak dalam keterikatannya pada hukum-hukum syariah di saat memecahkan seluruh problem yang dihadapinya. Juga akan tampak pada kehidupan sosial di tengah lingkungan masyarakatnya, termasuk dalam aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Di tataran kelompok, aktivitas politik Islam ini tampak dalam keseriusannya berjuang mencerdaskan umat agar Islam dipahami dengan benar, diyakini dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan. Serta terdepan dalam memperjuangkan tegaknya hukum-hukum Islam dalam kehidupan.

Adapun dalam tataran negara atau penguasa, maka aktivitas politik Islam akan tampak dalam konsistensinya menerapkan seluruh hukum-hukum Islam baik di dalam maupun luar negeri (hubungan antar negara). Negara akan mengatur seluruh peri hidup rakyat dan menyelesaikan seluruh problem kehidupan mereka hanya dengan Islam, karena negaralah institusi pelaksana politik Islam sebenarnya. Institusi ini bernama khilafah, yang merupakan warisan Rasulullah.

Setelah memahami perbedaan antara sistem politik demokrasi dengan sistem politik Islam seyogianya generasi milenial yang merupakan mayoritas muslim saat ini senantiasa berperan aktif dalam perpolitikan, yakni dengan menjadi bagian dari pengemban misi dakwah Islam. Dan bukan sekadar dimanfaatkan menjelang tahun politik untuk diambil suaranya atau malah terjerumus dalam politik praktis demokrasi.

Dengan menjadi aktivis dakwah, berjuang untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam seperti yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Dan sejak Rasulullah mewariskan Islam yang didirikannya di Madinah Al Munawarah dan ditegakkan oleh para sahabat dan generasi-generasi setelahnya. Maka selama 14 abad umat Islam dan umat lainnya bisa merasakan kehidupan sejahtera dan penuh berkah.

Tentang hal ini cukuplah pernyataan Will Durrant dalam bukunya sebagai bukti. Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.

Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan yang luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.

sumber : prokal.co

Comments are closed.

Close Search Window