Berita|

Tokoh Nasional Indonesia Guruh Soekarno Putra meminta para politikus agar proses Pemilihan Umum (Pemilu) 2019  tidak hanya sekedar menjadi alat untuk mencari kekuasaan semata, melainkan juga sebagai proses budaya.

“Perpolitikan nasional kita saat ini sungguh menyedihkan. Dalam pulasan besar, kita melihat fenomena betapa banyak pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan seolah terperangkap pada satu pemahaman bahwa segala cara dan alat dihalalkan untuk merebut kekuasaan,” ujar Guruh, Senin (3/12).

Fenomena sikap dan tindakan para politisi seperti ini, katanya, membuat masyarakat menjadi hafal pada sejumlah kata sifat. Kata itu adalah, fitnah, intrik, dan terakhir yang kian populer adalah hoax (kabar bohong).

“Tentu tak ada asap tanpa api. Jika kata sifat yang kini memenuhi kepala masyarakat itu sebagai asapnya, maka ucapan dan tindakan para elit politik bersama teamnya adalah sumber apinya,” katanya.

Guruh mengatakan, peristiwa politik seperti pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) dapat dijadikan pembelajaran sebagai sebuah peristiwa budaya di mana ada sistem nilai dan sosial yang dipraktikkan.

“Karena dari situ akan dilahirkan karya berupa tatanan negara dan tatanan masyarakat adil dan makmur. Dari situ akan dilahirkan pemimpin sebagai pemikul amanah. Peristiwa politik yang memperjuangkan kemaslahatan orang banyak itu pula kita menjadi bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Guruh.

Ia melihat peristiwa politik saat ini bukan sebuah peristiwa budaya. Sebab peristiwa budaya selalu bersifat kolektif kolegial. Peristiwa budaya adalah peristiwa yang seirama dengan hakikatnya kehidupan masyarakat manusia yang menjadi subyek peristiwa budaya.

“Peristiwa politik yang kita jalani saat ini, kita ilustrasikan seperti peristiwa mekanisme pasar. “Kebutuhan” diciptakan sepihak oleh pemilik produk. Tentu saja peristiwa politik model mekanisme pasar tetap memiliki tingkat partisipasi meski hanya berdasarkan sentimen,” lanjutnya.

Kata Guruh, kebanyakan partisipan dibangun berdasarkan sentimen identitasnya, selebihnya adalah massa yang dimobilisasi melalui mekanisme transaksional. “Jarang sekali partisipan terlibat karena keperluan hidupnya,” tutupnya.

sumber : beritasatu.com

Comments are closed.

Close Search Window