Berita|

Untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan kaum perempuan, maka salah satu jalan yang efektif adalah terjun dalam politik praktik yakni menjadi anggota partai dan kemudian mencalonkan diri sebagai anggota parlemen.

Demikian benang merah dari seminar politik bertema “Perpesktif politik kaum perempuan dalam memilih pemimpin ideal” yang diselenggarakan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta, Senin siang (29/10).

Politisi perempuan dari Partai Demokrat, Melani Leimena Suharli yang tampil sebagai pembira,memaprkan betapa pentingnya keberanian perempuan untuk aktif dalam politik. “Jadi, perempuan memang harus terlibat dalam politik,” kata Melani mengutip katakata mantan Ibu negara Ani Yudhoyono, sambil memperlihatkan foto Ani Yudhoyono.

Melani yang kini anggota Komisi VI DPR RI lebih lanjut mengatakan, kehadiran pemimpin perempuan dalam bidang politik akan mampu mendorong pengurangan kemiskinan, pemerataan pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender.

Salah satu Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga bercerita bagaimana mendiang ayahnya, Prof. Johannes Leimena yang tak lain Menteri Kesehatan dan juga Waperdam masa pemerintahan Soekarno, mengungkapkan secuil kisah . “Ayah pernah mengatakan kepada ibu untuk banyak membaca koran dan mendengarkan berita. Tujuannya agar ibu lebih mudah mengerti jika diajak berdiskusi tentang politik. Tidak memasak tak masalah,” katanya.

Jadi, kata Melani kepada para mahasiswa PMII yang memenuhi ruang seminar, kaum perempuan harus mencari calon suami yang punya kepedulian pada perempuan dan juga paham soal-soal politik, agar bisa menjadi pelindung perempuan. “Di samping itu mahasiswa harus aktif berorganisasi dan mengembagkan potensi kreatifnya untuk menopang kemandirian nantinya,” tambah Melani.

Sementara politisi PKB, Achmad Imam yang juga pembicara seminar mengatakan, kehadiran perempuan daalam kancah politik sangat membantu akselerasi peran perempuan.

“Saat ini kaum perempuan jadi rebutan kandidat anggota dewan maupun capres. Mengapa? Dalam banyak penelitian, pemilih perempuan lebih loyal dan jarang berubah. Karena itu, perempuan juga penting memilih pemimpin perempuan juga,” kata Imam.

Sedangkan dosen Universitas NU, Amsar A. Dulmanan menjelasakan, perempuan menjadi variabel penting untuk kemenangan pemilihan.

Namun Amsar mengingatkan bahwa dalam politik rasional atau demokratisasi, maka tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Maka, untuk menentukan kemenangan suatu pemilihan, ditentukan 50 plus satu, artinya harus ada selisih angka kemenangan yang ditentukan dari suara, bukan gender.

sumber : koran-jakarta.com

Comments are closed.

Close Search Window