Berita|

Kekuatan negara harus ditopang kemajemukan, pembangunan demokrasi, dan penegakan supremasi hukum. Kemajemukan adalah kekuatan yang harus dikelola dengan baik. Kemajukan bukan hal negatif, tetapi harus dimaknai secara positif. “Itu given (diberikan) kepada warga negara Indonesia, yakni rasa memiliki sebagai warga negara, bangga beraneka.

Ini yang tidak perlu dinafikan,” kata Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Siti Zuhro, pada acara peresmian Graha KAHMI Jatim, di Kota Surabaya, Sabtu (23/7) malam. Lebih jauh, Siti Zuhro mengatakan pembangunan demokrasi yang sehat dan beradab yang tidak sekadar dilaksanakan dalam mekanisme prosedural, tetapi jauh lebih berkepentingan membangun demokrasi yang substansif. Demokrasi yang beradab tidak memberikan peluang terhadap munculnya konflik yang bernuansa kekerasan.

Sementara itu, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berharap KAHMI tidak hanya berpikir di dataran yang mudah dan sepele. Mereka diharapkan lebih maju ke depan dengan memberikan soroton kritis terhadap kesenjangan sosial di negara ini. “Ini yang harus diberikan solusi. Saya sebagai intelektual dan peneliti memberikan solusi dalam bentuk laporan penelitian dan dalam bentuk kontribusi kepada kementerian terkait tanpa diminta.

Akan tetapi, saat ini seringnya diminta,” ujarnya. Reformasi Birokrasi Demokrasi harus dilandasi penegakan hukum yang kuat dan reformasi birokrasi. Tanpa itu, demokratisasi jadi batal semuanya karena seenaknya atau semaunya saja. Siti senang, pilkada pada tahun 2018 memaksa parpol menjagokan calonnya yang berkualitas.

Jawa Timur semula diprediksi akan terjadi kekacauan karena warga NU saling berhadapan. Namun, jauh sebelum pilkada, Siti mengatakan tidak. Begitu juga di Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Siti Zuhro berani mengatakan seperti itu karena dia adalah peniliti, bukan pengamat. “Kalau peneliti berani bicara dengan data sehingga untuk memahami seperti itu mudah,” katanya. Siti Zuhro menegaskan, KAHMI merupakan organisasi yang lahir dan tumbuh kembang untuk memberikan makna yang bermanfaat kepada NKRI sehingga tidak perlu dicurigai.

Dia telah menyampaikan kepada BIN yang merupakan salah satu institusi negara yang selama ini dinilai suka mencurigai keberadaan HMI dan KAHMI. “Itu jaminan saya kepada BIN. KAHMI pada dasarnya tidak perlu dicurigai. Meskipun sipil, cinta kami utuh kepada NKRI,” kata Siti Zuhro. Oleh karena itu, lanjut dia, KAHMI senantiasa terpanggil untuk menjaga kelangsungan dan kemajuan NKRI.

Namun sebaliknya, kalau NKRI goyah karena ada elite-elite yang sedang bermanuver dan membahayakan NKRI, KAHMI akan berteriak kencang. “Itu sifat watak dasar dari alumni HMI. Boleh orang memandang sebelah mata kepada kami, seperti yang saya sampaikan pada acara buka puasa bersama di rumah Akbar Tanjung beberapa waktu lalu, kami seolah-olah tidak solid. Begitu menyinggung hal yang prinsip, kami akan bergerak bersama merespons bersama,” ujarnya.

Siti Zuhro mengatakan kehadiran KAHMI cukup diperhitungkan dalam kehidupan bernegara dan berpolitik di negeri ini. Hal itu dikarenakan KAHMI memiliki prinsip dalam keberpihakan dan empati terhadap Indonesia yang maju serta sejahtera. Prinsip dasar yang dipahami itu yang menjadikan KAHMI tidak luntur.

Sementara itu, Koordinator Presidium Majelis Wilayah KAHMI Jatim, Bawon Adi Yitoni, mengatakan salah satu kebersamaan dan kesolidan anggota KAHMI telah dibuktikan dengan dibangunnya Graha Kahmi Jatim kali ini. KAHMI sudah 52 tahun. Bicara program ndaki-ndaki (tinggi), tetapi rumah tidak punya. Selama dalam kepengurusan KAHMI Jatim yang sekarang, lanjut dia, pihaknya mencari cara agar Graha Kahmi Jatim bisa dibangun, salah satunya dengan cara gotong royong di antara pengurus dan anggota KAHMI Jatim serta bantuan dari pihak-pihak terkait lain.

sumber : koran-jakarta.com

Comments are closed.

Close Search Window