Berita|

Pesta demokrasi harusnya mencerdaskan publik. Karenanya pesta politik lima tahunan ini mesti jadi festival gagasan. Bukan ajang saling kecam dan serang. Karena sejatinya subtansi pemilu adalah adu gagasan. Adu program. Bukan seperti ‘perang’.

“Substansi pemilu itu adalah sebuah kontestasi. Sebuah festival. Bukan suatu perang,” kata Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam pesan singkatnya via WhatsApp yang diterima di Jakarta, Kamis (15/11).

Pemilu menurut Tjahjo ibarat sebuah lomba. Dalam sebuah lomba, strategi diperlukan. Tapi, tumpuannya adalah ide, gagasan dan program. Itu instrumen utama yang harusnya memikat publik atau calon pemilih. “ Pemilu itu bukan suatu perang. Bukan pula pertandingan,” katanya.

Sebagai sebuah lomba, kata dia, yang ada adalah upaya saling mendahului. Sederhananya seperti itu. Jadi, tidak seperti peperangan atau pertandingan, dimana spiritnya adalah saling mengalahkan dan saling menghancurkan.

“Karena itu dinamakan juga sebagai pesta demokrasi, dimana sebagaimana layaknya sebuah pesta, tentu diharapkan semua kontestan merasakan antusiasme,” kata dia.

Dalam kontestasi lanjut Tjahjo, pasti ada posisi lebih dulu atau posisi lebih unggul. Namun demikian dalam sebuah pesta demokrasi yang menang tetaplah rakyat. Bukan kemudian rakyat jadi korban. “ Saya harap pemilu 2019, seperti itu,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Kaka Suminta menilai narasi politik yang terjadi selama masa kampanye menjelang digelarnya pemilu serentak 2019, kualitasnya kian menurun. Lebih buruk ketimbang kontestasi sebelumnya. Sebab yang dicatat publik adalah narasi-narasi yang tak menukik pada substansi masalah yang dihadapi bangsa. Tapi halhal yang remeh- temeh.” Terjadi penurunan kualitas,” kata Kaka.

Alih-alih kata Kaka, yang terjadi di masa kampanye sampai saat ini adalah festival gagasan, tapi yang disodorkan justru perdebatan dan adu statemen yang tak subtansial. Debat yang sama sekali masih jauh dengan bagaimana para capres ini menyelesaikan berbagai persoalan yang melilit bangsa saat ini. Bahkan, visi misi mereka pun, tak begitu intens disinggung.

“Yang terjadi peningkatan pada potensi ekskalasi kekerasan verbal dan konflik yang merupakan ciri buruk dan potensi menurunkan kualitas demokrasi,” katanya.

Tingkatkan Kualitas

Kaka terus terang merasa masygul. Harusnya pemilu serentak yang merupakan tonggak sejarah, dijadikan momentum meningkatkan kualitas cara berdemokrasi dari para elit yang terlihat dalam kompetisi. Ini sebenarnya kesempatan untuk menyemai gagasan-gagasan besar. Sayang, yang terjadi adalah adu argumen dengan isu yang remeh-temeh. Isu yang tak terkait dengan hajat hidup orang banyak. Sehingga calon pemilih, sedikit sekali mendapat referensi tentang visi misi calon pemimpinnya.

“Seharusnya semua aktor pemilu mengedepankan upaya dan ujaran yang mendorong peningkatan demokrasi. Ini yang tak tampak sampai saat ini” katanya.

Kaka menambahkan, narasi- narasi yang berkembang dalam masa kampanye justru kontraproduktif. Misalnya, ia contohkan seperti penggunaan istilah yang bisa disalahartikan atau bahkan mengandung kekerasan verbal. Ini bukan hanya tidak mendidik tapi juga merusak narasi demokrasi. Bahkan potensial menurunkan kualitas pemilu.

“Sudah saatnya Bawaslu memberikan warning kepada semua pihak. Karena bukan hanya bagaimana membuat indeks kerawanan. Justru dalam masa kampanye ini peran Bawaslu dibutuhkan juga untuk melakukan pencegahan ekskalasi tadi,” kata Kaka.

sumber : koran-jakarta.com

Comments are closed.

Close Search Window