Berita|

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai debat pilpres sangat penting bagi pasangan capres untuk merebut 25 persen suara dari swing voters. Ia mengatakan, bagi kedua kubu yang telah memiliki pendukung fanatik, debat memang kurang terasa manfaatnya.

Sebab, para pendukung fanatik cenderung tak akan mengganti pilihannya meskipun telah menyaksikan debat. Namun, hal itu berbeda bagi swing voters yang masih belum yakin dengan pilihannya dan akan menjadikan penampilan kedua pasangan calon dalam debat sebagai pertimbangan untuk memilih.

“Terutama bagi orangorang yang pemilih baru, pemilih milenial, pemilih yang ragu-ragu. Tapi, bagi pemilih yang sudah loyal itu debat sebenarnya debat enggak punya arti apa-apa. Hanya sebagai tontonan saja. Penambahan informasi lah ya,” ujar Arya di Kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta, Selasa (15/1).

Ia mengatakan masing-masing kubu bisa mendongkrak elektabilitas asalkan tidak menyampaikan jawaban yang normatif di saat debat. Sebab, pemilih tentu ingin mengetahui sejauh mana penguasaan kedua pasangan calon terhadap permasalahan publik.

“Saya percaya bahwa kalau kandidat mampu tampil dengan performa yang baik begitu ya. Gesture, body language, komunikasinya, dan yang kedua soal materinya. Substansinya, gagasannya, programnya,” ujar Arya. “Kalau kandidat bisa unggul di dua itu, saya percaya debat akan mampu mempengaruhi orang,” lanjut dia.

Sudah Disepakati

Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum ( KPU) mengingatkan pasangan caprescawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno melempar pertanyaan yang substansial dalam debat. Peserta diimbau tak memberikan pertanyaan yang tidak konseptual. Hal itu telah disepakati oleh kedua tim kampanye dalam sejumlah rapat persiapan debat.

“Pertanyaanya harus substansial, sehingga harus bersifat konseptual. Arahnya jelas untuk menghindari pertanyaan yang tidak substansial,” kata Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/1). Debat perdana Pilpres 2019 akan digelar KPU Kamis (17 /1).

Tema yang diangkat adalah hukum, HAM, terorisme dan korupsi. Peserta debat pertama adalah pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Debat perdana ini akan disiarkan oleh empat lembaga penyiaran, yaitu TVRI, RRI, KOMPAS TV, dan RTV. Wahyu mengatakan, pertanyaan yang tidak substansial atau jauh dari tema yang diusung dalam debat tidak akan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tujuan dari debat itu adalah menyampaikan visimisi pasangan calon ke muka umum, supaya publik dapat menentukan pilihan calon pemimpin mereka. “Kami ingin debat ini bermanfaat untuk paslon dan masyarakat. Oleh karena itu, kami sudah berkoordinasi dengan TKN dan BPN, jadi debat itu harus mengedukasi,” ujar Wahyu.

Wahyu menjanjikan, debat perdana pilpres tidak hanya akan mengedukasi publik, tetapi juga menarik untuk disimak. Nantinya, akan ada enam segmen dalam debat dengan dua metode lontaran pertanyaan. Segmen kedua dan ketiga adalah debat dengan metode lontaran pertanyaan terbuka.

Segmen keempat dan kelima adalah debat dengan metode pertanyaan tertutup. Metode ini memberikan kesempatan kepada pasangan calon memberikan pertanyaan ke pasangan calon lainnya. 

sumber : koran-jakarta.com

Comments are closed.

Close Search Window