Artikel|

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia”. 

Kalimat diatas adalah retorika menggugah dari salah satu kutipan yang paling dikenal dari ajaran-ajaran pendiri bangsa kita Ir Soekarno.

Sekitar lima tahun belakangan ini kita menyaksikan hadirnya sebuah zaman baru, zaman ketika geliat kaum muda, anak dari setiap bangsa menggeliat, memupuk keberanian, lantang menuturkan kebenaran, berkumpul serta berorganisasi untuk mengubah wajah dunia. 

Pendeknya mereka anak-anak muda tengah bangkit dan berbareng bergerak untuk mengguncang dunia!

Politik Kaum Muda

Di Spanyol kaum muda bangkit dan pelan-pelan menunjukkan kuasanya dengan membangun organisasi politik bernama Podemos (Bisa) dipimpin Professor Ilmu Politik muda Pablo Iglesias. 

Di Yunani anak-anak muda berhimpun dan berkuasa dibawah organ politik Syriza (Akar) yang berhasil menempatkan Alex Tsipras sebagai perdana menteri. 

Di Amerika Serikat barisan anak muda berusia 17 sampai 29 tahun (pemilih pemula) sampai kaum separuh baya berusia 30-44 tahun mengusung politisi progresif Barnie Sanders untuk menjadi Presiden Amerika Serikat melalui Partai Demokrat. 

Di Inggris komunitas-komunitas orang muda dari berbagai lapisan kelas sosial berjuang untuk menaikkan Jeremy Corbin sebagai kandidat Perdana Menteri Partai Buruh. 

Di negeri-negeri Amerika Latin seperti di Chile, kebangkitan politik alternatif dimotori oleh gerakan-gerakan mahasiswa dibawah pimpinan mahasiswi progresif Camila Vallejo.

Negeri kita Indonesia pun sedikit banyak tidak steril dari wabah gelombang kebangkitan anak muda seluruh dunia. 

Setelah kelompok-kelompok anak muda melalui barisan relawan berhasil memenangkan Joko Widodo sebagai presiden, kita menyaksikan komunitas-komunitas sosial anak muda Indonesia bergerak menggeliat untuk menemukan format kebangkitannya. 

Untuk menyebut beberapa komunitas, kita menemukan kelompok seperti SI Perubahan (Sukarelawan Indonesia untuk Perubahan) yang menghimpun dosen, pekerja seni, tokoh muda dan jurnalis dari Aceh sampai Papua. Kelompok ini memiliki perhatian terhadap isu-isu inovasi sosial dan politik progresif. 

Selain itu muncul pula jejaring komunitas epistemik pengetahuan (epistemic community) Indoprogress yang menghimpun mahasiswa-mahasiswa progresif dan intelektual Indonesia dari luar dan dalam negeri yang memperjuangkan politik radikal-transformatif melalui perjuangan media online dan penerbitan. 

Selain dua komunitas diatas di negeri kita juga tumbuh organ-organ sosial seperti Kapal Perempuan dan Inspirasi Indonesia yang memperjuangkan pluralisme dan kesetaraan gender.        

Kesadaran politik kolektif kaum muda di seluruh dunia tumbuh ketika mereka menyaksikan begitu dalamnya pemiskinan struktural di sekitarnya, begitu kuatnya konsentrasi kekuasaan dan kekayaan terpusat di antara segelintir orang kaya berpengaruh dan berkuasa, dan begitu terbatasnya kesempatan-kesempatan sosial yang terbuka dalam sistem ekonomi-politik yang sedang mengalami pendalaman krisis global. 

Kondisi ketidakamanan ekonomi (insecurity economics) adalah landasan material dari gugatan mereka. 

Kondisi ketika mereka menyaksikan biaya masuk mereka untuk belajar di universitas semakin tinggi, rumah-rumah untuk mereka bisa tinggal dengan nyaman bersama keluarga semakin tak terjangkau, daya beli mereka turun karena upah yang mereka terima tidak sesuai dengan kenaikan bahan-bahan pokok yang harus mereka beli, institusi-institusi keuangan perbankan lebih memberikan fasilitas kepada orang-orang terkaya daripada kredit lunak bagi usaha mereka.

Berkah Internet

Selain problem struktural seperti diatas, keberhasilan mereka untuk sadar, bangkit, bersuara dan berhimpun juga terfasilitasi oleh perkembangan tekhnologi informasi dan perkembangan internet yang memungkinkan mereka berdialog satu sama lain diberbagai tempat di penjuru dunia. 

Derasnya gelombang informasi dan intensitas ruang publik didunia maya memungkinkan mereka untuk menyaksikan kuliah-kuliah progresif dari figur seperti Slavoj Zizek, Terry Eagleton dan David Harvey yang mencerahkan. 

Panggung ruang publik di social media memfasilitasi mereka untuk mengartikulasikan gagasannya mulai dari status sampai artikel panjang yang memberi peluang untuk dibaca para netizen, tidak saja dinegerinya namun juga seluruh dunia. 

Dengan fasilitas pembentukan grup-grup sosial, para kaum muda mendapatkan kesempatan untuk membangun komunitas dan organisasi sebagai jalan awal untuk bergerak dan menggugat keadaan.

Tentu kita masih ingat thesis mendiang Benedict Anderson (1982) dalam Imagined Community menjelaskan bahwa kebangkitan nasionalisme pada awal abad ke-20 terutama di negeri-negeri terjajah terfasilitasi oleh tumbuhnya kapitalisme cetak, organisasi modern, pembangunan jalan-jalan sebagai sarana transportasi yang mempertemukan kaum muda terdidik. 

Pada fajar abad ke-21, adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi multimedia yang memungkinkan hadirnya politik progresif yang diusung oleh kaum muda seluruh dunia.

Namun demikian meskipun perkembangan teknologi informasi dan internet sangat mempengaruhi pergerakan kaum muda, apa yang tengah terjadi saat ini bukanlah sekedar manifestasi revolusisocial network dan komunikasi. 

Realitas yang lebih mendasar dari  politik kaum muda saat ini adalah berlangsungnya pembentukan perhimpunan kolektif dari hubungan sosial baru untuk menciptakan ruang-ruang teritori baru bagi perubahan yang berkarakter egalitarianisme.

Karakter Egalitarianisme

Karakter politik kaum muda baru ini hadir dengan prinsip equality (kesetaraan) dan berdimensi horisontal untuk menggugat kekuasaan asimetris dan hierarkhis yang menjadi karakter dominan dari kekuasaan yang tumbuh dari ruang-ruang demokrasi formal dan partai politik. 

Artikulasi politik yang dikedepankan oleh anak-anak muda ini hadir untuk menggugat dominasi kekuasaan yang mapan dan memanifes dalam bentuk kekuasaan berbasis kekayaan, agama, penguasaan atas institusi publik, maupun dominasi kekuasaan budaya yang membentuk kontrol atas tubuh dan orientasi seksual.

Mereka kaum muda berjuang memproduksi gagasan melalui banyak bentuk tidak saja melalui artikel, namun juga komik yang segar, meme yang tajam dan jenaka, film-film kreatif yang menggugah, lagu yang menyemangati dan berbagai artikulasi seni dan budaya lainnya.

Di tengah pekatnya watak kekuasaan yang semakin lama semakin serakah, setidaknya kita melihat secercah harapan dan cahaya ditengah kegelapan. 

Memang ini adalah perjuangan yang sulit, namun kembali seperti pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang digembleng setiap hari oleh keadaan, digembleng meski hampir hancur lebur namun bangkit kembali”.

sumber : kompas.com

Bagikan

Comments are closed.

Close Search Window